SELAMAT UNTUK GARUDA JAYA U-19 YANG MEMBUNGKAM KORSEL 3-2 DALAM LAGA AFC CUP GRUP G
Tampilkan postingan dengan label Ekonomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ekonomi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 09 Juli 2013

Jelang Puasa Besok, Pusat Perbelanjaan dan Pasar Diserbu Pembeli


Sumenep, Lintas Madura (09/07/2013)- Jelang puasa Ramadan besok (Rabu,10/07/2013) pusat perbelanjaan dan pasar-pasar di Sumenep diserbu pembeli. Pusat pertokoan di Jalan Trunojoyo Sumenep terlihat lebih ramai dari hari-hari biasanya. Mereka membeli kebutuhan selama puasa dan lebaran nanti, seperti baju koko, mukenah, sajadah dan kebutuhan sandang lainnya.

Terlihat pula jalan menuju pasar Anom Baru Sumenep yang ramai dengan lalu lalang kendaraan dan orang. Untuk menuju akses dalam pasar dikarenakan cukup padat, pengunjung harus memarkir kendaraannya di pelataran pembangunan pasar Anom yang mangkrak. Kini tempat tersebut dijadikan lahan parkir pengunjung pasar Anom." ya kami atur disini, jadi semua pengendara yang masuk ke pasar dikenai retribusi kemudian langsung belok kiri untuk memarkir kendaraannya. Disamping untuk meminimalisir kemacetan di dalam pasar oleh kendaraan pribadi, juga agar pengunjung enak dan aman untuk berbelanja", tutur salah satu petugas parkir pasar anom.

pasar Lenteng Sumenep

Menurutnya, animo masyarakat menjelang sehari sebelum puasa memang lebih banyak dari hari biasa. Hal ini dimungkinkan untuk persiapan puasa selama sebulan penuh dipersiapkan sekaligus. " memang lebih banyak dari hari sebelumnya pengunjung, ini kan untuk persiapan puasa, pasaran menjelang puasalah", jelasnya.

Puasa Ramadan 1434 H secara resmi diumumkan pemerintah hari Rabu(10/07/2013) besok melalui menteri Agama RI Suryadharma Ali di Gedung Kemenag tadi malam. Dengan diumumkannya besok puasa, masyarakat masih punya kesempatan hari ini (09/07) untuk berbelanja menyiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan kebutuhannya selama bulan puasa. (mam/lm)

Selasa, 02 Juli 2013

Warga Kangean Resah Rencana Tarif Kapal Naik

Sumenep, Lintas Madura (02/07/2013) Bagi warga yang hendak menggunakan jasa kapal Express Bahari 3C kini harus merogoh kocek lebih dalam lagi. Pasalnya, harga tarif tiket kapal di Pelabuhan Kalianget bakal naik. Kenaikan itu menyusul naiknya harga BBM, sehingga operator kapal pun memilih menyesuaikan. Tak pelak, pengguna jasa pun mengeluh.

Informasi yang diterima Jawa Pos Radar Madura, rencana kenaikan tarif kapal express yang melayani jalur Pelabuhan Kalianget menuju pelabuhan Pulau Kangean itu akan diterapkan pada Kamis (4/7) mendatang. Tak tanggung-tanggung, kenaikan tarif kapal express itu hingga mencapai Rp 25 ribu mulai dari tingkat VIP Class, Executif Class, dan Business Class.

Harga tarif tiket yang baru untuk VIP Class Rp 200 ribu, sebelumnya VIP Class sebesar Rp 175 ribu, harga tiket Executif Class menjadi Rp 175 ribu dari harga sebelumnya Rp 150 ribu. Sementara untuk Business Class Rp 150 ribu atau naik Rp 25 ribu dari tarif sebelumnya yang hanya Rp 125 ribu. Kapal penumpang Express Bahari 3C saat ini memiliki kapasitas sebanyak 241 orang penumpang.

Kemudian ada tambahan penumpang sebanyak 10 persen sehingga menjadi 264. Namun, terkadang para penumpang tidak mendapatkan tempat duduk karena penumpang melebihi kapasitas. Barata Kurniawan, Manager PT Sakti Inti Makmur (SIM) Operator Kapal Express Bahari 3C menjelaskan, selisih harga dari harga sebelumnya bukan kenaikan melainkan hanya penyesuaian harga seiring dengan adanya kenaikan BBM.

”Kalau kita tidak menyesuaikan harga, maka bisa kelimpungan,” katanya. Penyesuaian harga tiket itu, lanjutnya, akan dilakukan ketika kapalnya sudah beroperasi, sebab saat ini kapal itu belum beroperasi, kapal akan beroperasi 4 hari lagi. ”Kami berharap terhadap penumpang express agar memahami penyesuaian harga tiket kapal.” tambahnya.

Ali Wafa, 38, pengguna jasa Kapal Express Bahari 3C mengaku keberatan dengan kenaikan harga tiket kapal. Menurutnya, kenaikan setinggi itu bukan lagi penyesuaian akan tetapi kenaikan yang sangat signi kan, padahal pelayanan kapal juga tetap, kalau ada kenaikan harga maka seharusnya pelayananterhadap penumpang juga harus lebih baik. ”Masih banyak penumpang yang berdiri padahal kalau harga tiket naik tidak boleh ada penumpang berdiri,” ujar warga Desa/Kecamatan Arjasa itu.(from media kangean)

Minggu, 23 Juni 2013

BBM Naik, Harga-Harga Barang Pun Mulai Merangkak

 Madura, Lintas Madura-  Setelah  harga BBM resmi naik, harga-harga barang pun mulai merangkak naik.  Kenaikan harga-harga barang ini menyesuaikan dengan harga BBM, dikarenakan BBM adalah bahan vital bagi segi kehidupan yang lain. BBM selalu terkait dengan transportasi yang akan selalu mempengaruhi semua aspek kehidupan.
Menurut salah satu alumni Fakultas Ekonomi Trunojoyo University, Hairullah mengatakan bahwa BBM sebagai sumber kehidupan yang menentukan bagi aspek kehidupan lainnya. " seakan memang ada teori kalau BBM naik, maka semua harga naik, termasuk harga sandal," selorohnya.
Ketika ditanya tentang konsep pemerintah yang menyodorkan BLSM bagi masyarakat miskin sebagai kompensasi kenaikan BBM, mantan aktivis mahasiswa ini mengatakan bahwa itu hanya apologi kosong pemerintahan SBY-Boediono. " Tak akan ada efek yang siginifikan dengan kebijakan itu, hanya omong doang, Rp. 150.000,00 hanya sementara untuk 2 atau 3 hari, 26 harinya makan apa? jadi BLSM dan penaikan harga BBM itu bukan malah menyejahterakan rakyat miskin, tapi justru akan menambah jumlah masyarakat miskin", tegasnya.
Sementara itu salah seorang ibu rumah tangga asal Sumenep, Siti Tarwiyah mnjelaskan bahwa semua barang mulai naik, misalnya harga gas elpiji kini sudah menembus harga 20 ribu untuk 3 kg, termasuk harga sayuran yang naik." kalau beli kangkung seutas itu seribu rupiah, cukup banyak, sekarang naik jadi 1500, itu pun agak berkurang jumlahnya," jelasnya.
Pemerintan resmi menaikkan harga BBM terhitung 22 Juni 2013 melalui pengumuman resmi Menteri Jero Wacik. Sampai saat ini kenaikan harga BBM terus terjadi tiap kali berganti presiden. Deretan Daftar Harga BBM Dari Tahun ke Tahun :
Pada masa Soeharto :
1991: Rp 150 naik jadi Rp 550
1993: Rp 550 naik jadi Rp 700

BJ Habibie :
1998: Rp 700 naik jadi Rp 1.200

Abdurrahman Wahid :
1998: Rp 1.200 turun ke Rp 1.000
1999: Rp 1.000 turun jadi Rp 600
2000: Rp 600 naik ke Rp 1.150

Megawati Soekarnoputri :
2001: Rp 1.150 naik ke Rp 1.450
2002: Rp 1.450 naik jadi Rp 1.550

Pak SBY :
2004: Rp 1.500 naik jadi Rp 1.810
2005: Rp 1.810 naik jadi Rp 2.400
2005: Rp 2.400 naik jadi Rp 4.500
2008: Rp 4.500 naik jadi Rp 6.000
2008: Rp 6.000 turun ke Rp 5.500
2008: Rp 5.500 turun ke Rp 5.000
2009: Rp 5.000 turun ke Rp 4.500
2013: Rp 4.500 naik jadi Rp 6.500
Pemerintah mengurangi subsidi BBM untuk jenis solar dan premium yang sering dikonsumi masyarakat Indonesia (tim/LM)

Minggu, 09 Juni 2013

Mengagetkan Warga; Gas Elpiji Tembus Rp.20.000,00


Sumenep, Lintas Madura (09/06/2013)- Menjelang kenaikan harga BBM yang akan segera dipatok pemerintah pertengahan bulan ini, ternyata didahului kenaikan harga gas jenis melon (3 kg) sejak seminggu terakhir. Kenaikan harga di tingkat pengecer naik dahsyat dan mengagetkan warga.

Kenaikan di tingkat pengecer pertengahan dan akhir bulan lalu mencapai 15 sampai 16 ribu rupiah ukuran 3 kg. Sementara awal bulan ini telah merangkak naik menjadi 18-20 ribu di tingkat pengecer. Kenaikan yang tidak disangka ini menimbulkan pertanyaan di tingkat warga, apakah nanti harga gas terus akan naik seiring dengan isu kenaikan harga BBM bersubsidi.

Salah seorang pemilik toko (pengecer) di Jalan Agus Salim Sumenep,Lina mengatakan kenaikan ini karena gas memang agak langka dan berkurang, sementara permintaan dari pelanggan seperti biasanya. Selain itu menurutnya dari agen gas juga harganya naik, jadi otomatis juga dinaikkan." gimana lagi kalau memang harga naik, sementara barangnya agak berkurang", jelasnya

Bahkan menurut informasi di kepulauan saat ini banyak warga yang telah beralih ke kayu bakar akibat dari langkanya dan tingginya harga Gas Elpiji 3 kg. Harga Gas di kepulauan sampai mencapai 27.000 -30.000/ 3kg (mam/lm)

Rabu, 29 Mei 2013

Pedagang Sayur Keliling; Jemput Bola di Tengah Arus Pasar Modern


Sumenep, Lintas Madura (29/05/2013)- Lowongan pekerjaan di sektor informal kian sempit, tidak harus menyurutkan langkah untuk tidak berusaha. Seperti yang dijalani, Pak Gaffar warga Desa Pamolokan ini dengan sepeda ontelnya tiap pagi keliling dari rumah ke rumah menjajakan sayur daganngannya. Berjualan sayur model Pak Gaffar atau mungkin yang lainnya kini sangat marak di Sumenep, terutama perkotaan.

Mereka menjemput bola, mendatangi pembeli dan membangun jaringan pelanggan dengan tidak pakai promosi, tetapi dengan kepercayaan dan kecepatan dan kemauan pembeli. Menurut Pak Gaffar yang tiap hari usai subuh sudah harus mengayuh sepedanya ke pasar di kota Sumenep untuk melengkapi sayur bawaannya adalah hal biasa dan harus dilakukan. " ya harus dilakukan untuk menyambung ekonomi keluarga, meskipun ala kadarnya yang penting barokah," tuturnya. "Yang penting kan mereka para pembeli percaya dengan kita, dan kita cepat melayaninya sepagi mungkin, karena kalau tidak bisa tertinggal dengan pedagang sayur lain" tambah Pak Gaffar.

Menurut Pak Gaffar yang telah duda ini, menuturkan bahwa dirinya bisa membantu orang lain. "Sehingga ibu-ibu rumah tangga tidak usah ke pasar,jadi mereka tinggal pesan saja pada saya, maka saya besoknya diantar, begitu" tegasnya.

Ketika ditanya pendapatannya tiap hari bapak satu anak ini, enggan menyebutkan karena memang tidak menentu. Kadang dagangannya ludes, tapi kadang masih tersisa, sehingga sayur membusuk, tidak bisa dijajakan lagi.

Menurut pengamat ekonomi, Hairul maraknya pedagang sayur keliling ini tidak lepas dari tren aktivitas ekonomi masyarakat, bahwa mereka maunya tidak susah-susah ke pasar tiap hari dan serba instan. " nah, pola pikir semacam inilah yang ditangkap oleh para penjaja sayur keliling, dan hal itu bagus di tengah gerusan pasar modern" tegasnya. (mam/lm)

Rabu, 15 Mei 2013

Manakar Problem Petani Rumput Laut di Madura yang Sering Rugi

                                                                          petani rumput laut yang sedang memanen tanamannya


Lintas Madura, 15/05/2013-Rumput laut atau ‘bulung’ (Madura) merupakan salah satu primadona produk unggulan di Madura terutama di masyarakat pesisir. Sejak dibudidayakannya rumput laut di kalangan petani, masyarakat yang semula hanya  sebagai nelayan biasa atau buruh di kampung pesisir nelayan, banyak beralih profesi menjadi petani, penjual, atau sekedar buruh di komoditi ini.
Sebuah prospek yang luar biasa ada di rumput laut, karena merupakan bahan ekspor ke luar negeri.  Lahan pertanian rumput laut menyebar dan membudidaya di beberapa tempat di Madura bahkan sampai kepualauan. Saking berpeluangnya, di Sumenep dibangun gedung megah untuk pengolahan rumput laut meskipun sampai saat ini belum beroperasi.
Namun, terakhir ini, petani rumput laut agak merugi disebabkan cuaca yang kurang mendukung. Persoalan petani memang klasik, mulai dari pemodalan, tanaman rusak karena cuaca, dan harga yang ajlok pasca panen. Seperti yang diutarakan petani asal Bluto, Pandi  yang sering merugi karena cuaca ekstrim saat ini. Ia pun harus beralih profesi sejenak ke peladang. “ iya kan cuaca kurang baik, jadi ke kebun dulu “, katanya dengan logat Madura kental.
Ia pun berharap berbagai pihak agar ke depan petani rumput laut dapat lebih sejahtera dengan bantuan dan pemberdayaan dari instansi terkait. (mam/lm)

Jumat, 10 Mei 2013

Kehadiran Minimarket di Kampung : Menguntungkan atau Mematikan?




                                    (Banner warga yang menolak kehadiran minimarket di kampungnya.Sumber Foto : Radar Bogor)

Madura,Lintas Madura (10/05/2013)-Kehadiran bentuk pasar modern di kalangan masyarakat tradisional (kampung) di Madura masih menimbulkan pro kontra. Di satu sisi masyarakat kampung bisa dimanjakan dengan kemudahan dalam memperoleh bahan-bahan kebutuhan pokok dan kebutuhan  sehari-hari lainnya dalam satu tempat dengan cepat. Namun di sisi lain, maraknya pasar modern seperti minimarket dan swalayan di perkampungan atau pasar tradisional dapat mematikan aktivitas ekonomi pedagang kecil yang jelas kalah bersaing.

Minimarket atau swalayan punya kekuatan yang lebih dibandingkan dengan pedagang kecil semacam PKL dan warung kecil. Menurut pengamat ekonomi,  Ahmad Winarto,SE, munculnya swalayan dan minimarket di pasar-pasar tradisional secara tidak langsung dan lambat laun akan memunahkan pedagang mikro, seperti asongan, PKL, dan toko-toko kecil. “ itu yang berbahaya, maka  saya kira harus ada regulasi yang strategis dari instansi terkait untuk mengatur kehadiran minimarket transnasional yang telah punya jaringan kuat di seluruh dunia atau tanah air. Dimana dan kapan mereka bisa mendirikan usahanya di kampung.  Jangan seperti sekarang, yang ada kecenderungan pemerintah begitu mudah dalam soal perizinan”, tuturnya kepada media ini.

Winarto mensinyalir, kalau terjadi pembiaran, maka pasar kita akan dimonopoli kelompok itu-itu saja. “ lihat saja sekarang, di pasar-pasar tradisional, pasti marak muncul minimarket atau swalayan-swalayan baru yang siap menghegemoni pasar di situ”, lanjutnya.

Untuk itu pemerintah harus tanggap serius dalam hal ini. Pemerintah harus bisa melindungi pasar tradisional dari kepunahan akibat kehadiran kaum pemodal. “ saya yakin, kalau pemerintah cerdas dan punya good will untuk melindungi pedagang tradisional ya harus segera mengambil langkah-langkah strategis dengan adanya regulasi khusus itu tadi dan sekaligus mulai memberdayakan pedagang kecil dalam satu komunitas tertentu sekaligus diberi pembinaan dengan intens”, kata Winarto

Tentu kita tidak ingin terjadi “chaos” di masyarakat karena lahan ekonomi mereka merasa dicaplok  orang luar. Kasus-kasus penolakan warga terhadap kehadiran minimarket di beberapa tempat di Madura, seperti di Marengan, pasar Ganding, dan Pamekasan seharusnya menjadi bahan instrospeksi bagi pihak terkait.  “ jangan malah pemerintah menanggapi fenomena ini dengan hanya soal perizinan, tetapi lebih dari itu bagaimana memikirkan dampak sosial ekonomi dan budaya bagi masyarakat tradisional yang telah tertata dengan baik”, pungkasnya. (mam/lm)

Minggu, 05 Mei 2013

Netpreneur Bertahan Ketika Entrepreneur Terjungkal


Madura,Lintas Madura (05/05/2013)-Krisis moneter yang melanda Indonesia sejak tahun 1998 memaksa para pelaku bisnis untuk memutar otak lebih keras lagi demi mempertahankan usahanya. Banyak bisnis konvensional—kerap disebut sebagai bisnis offline—terkena ancaman gulung tikar karena tidak mampu menyeimbangkan neraca pengeluaran dan pendapatan. Kondisi inilah yang kemudian memunculkan alternatif untuk membuka bisnis berbasis internet, alias bisnis online. Para pebisnis online yang dikenal dengan sebutan netpreneur muncul tidak semata-mata karena krisis moneter berkepanjangan di Indonesia. Perkembangan teknologi informasi di era digital juga ikut mendorong kemunculan para netpreneur. Media sosial tidak lagi digunakan hanya untuk bersosialisasi, melainkan juga menjadi sarana berkegiatan ekonomi. Apa saja nilai lebih seorang netpreneur yang bergelut di bisnis online dibanding entrepreneur yang berbisnis secara offline?
  • Netpreneur = anytime, anywhere
  • Ruang gerak netpreneur tidak terbatas pada gedung atau toko. Bisnis tidak hanya bisa dijalankan dalam ruang tertutup yang menuntut mobilitas antara seller dan buyer. Selama ada koneksi internet, netpreneur bisa menjalankan usahanya dari mana saja dan kapan saja, tidak terbatas ruang atau toko. Netpreneur juga tidak perlu melakukan mobilisasi untuk bertatap muka dengan buyer. Koneksi internet yang bisa diakses kapan saja membuat transaksi antara netpreneur dan buyer cenderung lebih cepat. Dengan kata lain, netpreneur menjalankan bisnis online-nya dengan cara yang lebih praktis, hemat waktu, dan hemat tenaga dibanding entrepreneur.
  • Netpreneur = digital era, digital technology
  • Hampir dapat dipastikan, semua netpreneur tidak mungkin “gaptek” atau gagap teknologi. Teknologi internet adalah aset utama bagi netpreneur dalam menjalankan bisnisya. Mau tidak mau, netpreneur harus memahami seluk-beluk teknologi internet, mulai dari perkembangan media sosial hingga penggunaan tools yang memudahkan kegiatan bisnisnya. Tuntutan untuk “melek teknologi” ini merupakan poin keunggulan netpreneur dibanding entrepreneur.
  • Netpreneur = simple work, simple problem
  • Kinerja netpreneur yang berbasis teknologi internet dipermudah dengan kehadiran tools-tools penunjang bisnis seperti Google Trends, GoMo, dan Think with Google. Berbagai tools ini membantu netpreneur dalam menjalankan bisnisnya dengan lebih simpel dan sederhana. Permasalahan bisnis yang ditemui netpreneur dapat terbantu lewat penggunaan tools-tools tersebut. Dengan kata lain, mekanisme kerja dan problem solving seorang netpreneur didukung oleh tools yang menjadikan bisnis online lebih praktis untuk dijalankan.
  • Netpreneur = world wide web, world-wide transaction
  • Ruang lingkup bisnis netpreneur tidak terbatas pada satu negara saja, melainkan meluas sampai ke seluruh penjuru dunia yang “terjamah” koneksi internet. Di satu sisi, hal ini memunculkan tantangan bagi bisnis netpreneur karena kompetitor bisnis lebih banyak dan berasal dari berbagai belahan dunia. Namun di sisi lain, kondisi ini membuat jangkauan pasar netpreneur menjadi lebih luas. Koneksi internet memungkinkan terjadinya transaksi antara netpreneur dengan para supplier dan bahkan buyer yang berasal dari luar negeri. Jangkauan pasar yang luas ini tidak dimiliki oleh entrepreneur sebab kebanyakan transaksi bisnis offline terbatas pada transaksi tatap muka atau sambungan telepon.
  • Netpreneur = no capital, no worries
  • Seorang entrepreneur pasti membutuhkan modal awal untuk menjalankan bisnisnya. Paling tidak, ia harus memiliki uang untuk menyewa toko tempat ia berbisnis. Hal ini tidak berlaku bagi seorang netpreneur . netpreneur sangat mungkin berbinis meskipun ia tidak memiliki modal awal. Ada beberapa alternatif yang bisa dilakukan netpreneur untuk menjalankan bisnis tanpa modal, misalnya dengan berbisnis dropshipping, yaitu metode penjualan eceran di mana si pengecer tidak perlu memiliki produk secara fisik (disarikan dari berbagai sumber)

Jumat, 26 April 2013

Kelangkaan Solar di Madura Resahkan Rakyat Kecil

                                                     Foto:salah satu SPBU yang sering masang papan "solar habis"

Kelangkaan BBM jenis solar di Madura meresahkan masyarakat benar-benar mencapai titik klimaks. Hal ini terbukti dengan sering kosongnya stok BBM solar di SPBU di Madura. Para pengguna mobil jenis solar dan para nelayan sangat merasakan masalah ini.

Meskipun Pemerintah melalui Pertamina telah mengklain menambah pasokan bahan bakar minyak bersubsidi jenis solar 30 persen di atas rata-rata pasokan normal sejak kemarin lusa, namun hal itu ternyata belum terasa di kalangan masyarakat kecil di Madura, terutama para nelayan yang menggunakan mesin jenis solar.
Masyarakat telah lebih sepekan kesulitan mendapatkan BBM solar, di SPBU. Sedangkan solar eceran bisa mencapai Rp 6000-7000/ liternya.

Hampir sepekan ini kebanyakan nelayan urung melaut karena kelangkaan solar ini. Namun ada pula yang nekad melaut dengan membeli solar dari pedagang dengan harga yang melangit. Salah seorang nelayan asal pesisir perbatasan Sumenep-Pamekasan, Munali mengaku karena telah hampir sepekan tidak melaut, akhirnya dengan terpaksa membeli solar dari pengecer. "Enggi kadipona pole Pak!', tapaksa pon, kaule melle solar se larang argena (Ya mau gimana lagi Pak, terpaksa kami beli solar yang harganya mahal)", ujarnya dengan logat Madura.

Kelangkaan solar ini disikapi serius oleh anggota DPR RI Rofi Munawar. Pihaknya mengatakan kalau kelangkaan ini dibiarkan berlarut-larut, maka akan menimbulkan gejolak sosial dan mengganggu aktivitas ekonomi masyarakat. Pemerintah melakukan pengendalian BBM Solar bersubsidi tanpa memerhatikan kebutuhan masyarakat kecil. 

Seperti diketahui dalam beberapa pemberitaan, PT Pertamina Region V Jatim bulan ini mengurangi pasokan solar bersubsidi 5 persen. Sesuai penugasan pemerintah, kuota solar bersubsidi yang menjadi tanggung jawab Pertamina tahun ini lebih rendah 8,3 persen dibandingkan dengan realisasi penyaluran tahun lalu.
Secara nasional, kuota solar bersubsidi tahun 2012 sebesar 15,56 juta kiloliter, turun menjadi 14,28 juta kiloliter tahun ini.

Sementara menteri BUMN Dahlan Iskan di beberapa media mengatakan, kelangkaan solar sudah diatasi Pertamina dengan menambah kuota BBM jenis solar untuk menghindari antrian panjang yang terjadi beberapa hari lalu.

"Tadi malam sudah ditambah kuota solar. Kita lihat hari ini dan besok perkembangannya. Di SPBU sudah tidak ada tulisan"solar habis atau solar jenis subsidi habis", terang Dahlan. (IS-lm)

Rabu, 17 April 2013

Truk Pengangkut Kaca Terguling, Kagetkan Warga



                                                                                          sumber foto (solopos-Jibi Photo) 

Lintas Madura (17/04/2013)- Sebuah truk yang mengangkut bahan kaca tiba-tiba terguling di parkir depan sebuah swalayan di Sumenep, hari ini (malam). Truk yang mengangkut kaca tersebut parkir di depan (sebelah utara) jalan raya Sudirman, Sumenep depan sebuah swalayan untuk diturunkan. Namun tiba-tiba terguling ke utara menimpa trotoar jalan tepat depan toko kaca. Bunyi gemuruh yang disertai pecahan kaca sangat mengagetkan warga yang melintas jalan Sudirman atau yang sedang berbelanja. 

Posisi truk tersebut miring ke utara, sementara isinya hancur berantakan. Truk yang bernopol L 8119 ZB tersebut diduga mengalami kelebihan muatan sehingga posisi ketika parkir tidak seimbang. Salah seorang petugas parkir di jalan Sudirman yang merupakan saksi mata menuturkan, bahwa dirinya tidak sempat melihat dari awal kejadian, namun sangat kaget ketika melihat yang mengangkut kaca tersebut tiba-tiba terguling dan isinya hancur berantakan. “ ya itu, saya menoleh tiba-tiba guling, cuma untung tidak roboh ke selatan, kalau ke selatan kan bisa menimpa pengendara yang melintas”, katanya.

Sampai berita ini diturunkan, pengemudi dan warga berusaha membersihkan puing-puing kaca yang berserakan di trotoar serta berusaha membalikkan posisi truk, namun tidak berhasil. Akibat kejadian itu, diperkirakan akan merugi hingga puluhan juta rupiah. (mam/lm)