Makam Syekh Ahmad Baidawi (Asta Katandur-Bangkal Sumenep)
Kamis malam menjadi sangat berharga bagi masyarakat yang
suka “ngalap” berkah melalui ziarah ke makam-makam yang dianggap wali. Seperti
halnya di kompleks pemakaman Syekh Ahmad
Baidawi atau yang lebih dikenal dengan asta katandur. Pada kamis malam (18/04) kompleks pemakaman Asta
Katandur sebagai salah satu situs
sejarah religius kabupaten Sumenep tetap banyak dikunjungi peziarah yang datang
dari berbagai wilayah, baik lokal maupun dari pulau Jawa, seperti Jember dan daerah tapal kuda Jawa Timur lainnya.
Umumnya peziarah dari wilayah lain, membawa rombongan satu
mobil atau satu bus. Mereka berada di kompleks pemakaman sekitar satu sampai dua jam, untuk berdoa dan zikir
atau membaca Al-Quran. Sedangkan peziarah yang datang dari wilayah Sumenep sendiri
umumnya hampir kelihatan tiap hari datang, atau bahkan ada yang betah hingga
berhari-hari atau berbulan-bulan yang lazim diistilahkan dengan tirakatan
.
Tak Ada Akses Jalan
Layak
Namun, yang cukup disayangkan adalah akses jalan besar yang
tidak ada sampai ke lokasi makam. Peziarah dari luar daerah harus memarkir
mobil dan busnya di pelataran terminal Bangkal, lalu untuk menuju kompleks
makam harus ditempuh dengan jalan kaki
sekitar 1 km jauhnya.
Lokasi Asta Katandur yang berada di pinggir Kali Paddusan
memang cukup menyulitkan peziarah, karena mengendarai mobil sejenis L300 dan
carry harus memarkir di utara Asta Katandur lewat jalan tembus perumahan
Giling. Sebenarnya bisa saja akses jalan
besar dibuat dengan memperluas jalan utama perumahan giling ke utara yang bisa
dilewati bus atau mobil besar dan membuat lahan parkir tepat di utara kompleks
pemakaman Asta Katandur, namun tentu membutuhkan perencanaan matang.
Pemugaran Kompleks
Makam
Sampai saat ini, memang telah terjadi perluasan pekarangan
makam untuk memberi kenyamanan bagi peziarah yang sebelumnya hanya bangunan
cungkup kecil. Sekarang bangunan utama makam setidaknya bisa menampung hingga
300 orang, meskipun lantai makam belum dikeramik baru sebatas pelesteran biasa.
Menurut salah seorang peziarah yang sering berhari-hari di
kompleks Asta Katandur, Matrawi, ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian
agar peziarah nyaman saat berziarah, yakni akses jalan tembus ke makam yang
bisa dilalui bus dan mobil besar, lampu
penerangan yang terang benderang di sekitar kompleks makam, tempat wudu dan
tempat peristirahatan para peziarah yang dari luar daerah. “ ya memang belum
ada jalan besar, lantainya belum dikeramik yang baru direhab itu dan parkir
yang aman bagi peziarah”, tuturnya.
Matrawi menambahkan kompleks Asta Katandur mendapat sentuhan
bangunan berupa pagar dan musala ketika masih zamannya pak sekda Hadori,
kemudian saat Bupati K. Ramdan yang menetapkan Asta Katandur sebagai situs
sejarah Sumenep.(mam/lm)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar Anda